Jumat lalu kami bikin acara kumpul-kumpul sambil menikmati aneka makanan, termasuk hidangan primadona malam itu, jagung bakar. Bukan sembarang jagung bakar, ini adalah jagung bakar terenak di dunia yang dulu dijajakan secara mangkal di seputar Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Kenapa saya bilang seputar, karena pindah-pindah. Awalnya tepi jalan Panglima Polim IX, di tembok luar restoran Camoe-Camoe, trus pindah ke Jalan Radio Dalam (hehe ini mah nggak seputaran PangPol yak?), habis itu pindah lagi ke tepi Jalan Panglima Polim V. Trus menghilang
Kerinduan akan rasa jagung bakar yang nendang banget ini membuat kami, para penggemar jagbak (begitu kami biasa menyebutnya) ini hunting mati-matian mencari si kreator jagbak. Untungnya dulu waktu suka nongkong-nongkrong di kios jagbak itu kami suka ngobrol sama para penjualnya, berupa tim yang terdiri dari beberapa mas-mas antara lain Cak Mul, No, Bagong, Lukman dan terakhir Momo. Waktu Cak Mul nggak kliatan lagi, kami tanya ke No, “Cak Mul mana?” Jawabannya tak begitu kami simpan dalam ingatan. Maksudnya lupa…. Tapi ada satu yang menancap di otak, yaitu jawaban terhadap pertanyaan ke Momo. ”Mo, Lukman sekarang di mana?” Jawaban berupa tempat kerja Lukman yang baru itulah yang menancap di ingatan saya dan menjadi kunci utama kami bisa menikmati jagbak lagi.
Suatu pagi yang cerah, sebelum ke kantor saya mampir dulu ke perkiraan tempat kerja Lukman. Lalu kayak orang bener saya tanya ke satpamnya. “Pak, di sini ada yang namanya Lukman nggak pak?” Jawabannya ada dan saya mengalami detik-detik menegangkan menanti Lukman muncul dari ruang dalam tempat kerja itu. Lukman yang itu bukan ya? Alhamdulilah, bener lho Lukman yang itu! Ngobrol-ngobrol sedikit dan tukeran nomer telpon pun kami lakukan.
Berita menggembirakan (dapet nomor telpon Lukman) dan berita menyedihkan (mereka udah nggak jualan jagbak lagi) saya sebarkan ke komunitas penggemar jagbak. Diskusi pun berlangsung alot sampai akhirnya diputuskan mengusung Momo ke rumah Mita, tentunya bersama jagung dan bumbunya, dan mengolah menjadi jagbak yang mantap di tempat itu. Dengan demikian kami pun bisa menikmatinya. Tuhan Maha Pemurah, Titien, salah satu member penggemar jagbak yang sangat bersemangat itu berhasil menemui Momo dan merayunya untuk menyediakan jagung dan bumbu-bumbu.
Friday the thirdteen June adalah hari bersejarah itu. Dari siang saya sama Mita dan Nini udah chatting2, nggak sabar menunggu sore. Jam 5, Mita off dan langsung ngibrit. Jam 6 saya dan Nini sama2 off dan cabut ke TKP. Marisa, Titien, Marcel dan Toey kami temui di rumah Mita, di sana sudah ada Momo dan Jo yang sudah sibuk ngipas.
Waaaahhh senangnya makan jagbak lagi. Momo memang jempolan, pilihan jagungnya mantab, bumbu tak sekadar ditaburi dan dicocolkan, tapi juga diulek, diracik, dimasak dll. Demikian pula jenisnya, tak sekadar mentega dan garam, tapi ada santan, gula jawa, terasi, cabe, dll yang rahasia dong. Dia juga piawai mengoleskan bumbu ke jagung yang ternyata juga nggak sembarangan. Lalu proses membakarnya dong…beda dari cara membakar jagung penjual yang lain deh pokoknya. Akhirnya rasa yang enak banget itu pun kami nikmati lagi. Asyik deh….di bawah taburan bintang di langit, ditambah makanan-makanan lain yang enak-enak semua. Sebotol wine dan bonus keindahan kembang api dari acara Bolaskop Extra Joss 2008 di Blok S yang kliatan dari roof top rumah Mita. Kayak di Barcelona….*ngarang.com*.


Recent Comments