Suatu hari teman saya bertanya-tanya, “Apa sih artinya ‘pembalakan’? ‘Penebangan hutan secara liar’ kan? Kenapa sih nggak tetap pakai istilah ‘penebangan hutan secara liar’ aja kayak dulu? bikin bingung aja.”
Hahaha memang jadi membingungkan. Banyak istilah baru Bahasa Indonesia yang menggantikan istilah lama. Positifnya, pembaca koran ditantang mempelajari istilah-istilah itu. Negatifnya, wartawan dulu kosa katanya terbatas, kalau dari dulu udah ada istilah ‘pembalakan’ kan jadi nggak perlu panjang-panjang pakai kata-kata ‘penebangan hutan secara liar’.
Pengamatan saya di koran baru-baru ini cukup menggelikan. Berita tanggal 26 November, jalan ke bandara Soekarno-Hatta terendam air, disebutnya ‘banjir air laut pasang’. Beberapa hari kemudian banjir jenis yang sama terjadi di Semarang, disebutnya ‘rob’. Karena sudah ada istilah yang lebih singkat (rob), hari-hari berikutnya, wartawan pun ikut-ikut menulis dengan istilah ‘rob’ untuk berita terjadinya ‘rob’ di Jakarta maupun di kota-kota lain.
Orang Semarang memang selalu memakai istilah ‘rob’ untuk banjir air laut pasang. Pada tahun 2000 saya bertugas di Semarang, waktu mau naik kereta untuk pulang ke Jakarta, perjalanan saya menuju stasiun KA terhadang banjir. Saya nggak tau istilahnya apa, pokoknya malam itu ke stasiun dengan penuh perjuangan. Pertama naik taksi, lalu saya mengoperkan diri naik becak. Pertama duduk manis di bangku becak, lama-lama harus duduk di sandaran becak karena air naik sampai ke bangkunya. Lalu perjuangan menunggu kereta yang terlambat 5 jam. Tahun 2005 saya ke Semarang lagi, saya ceritakan pengalaman saya di tahun 2000 itu ke orang Semarang. Katanya “oh, itu bukan banjir, itu rob.”
Begitu ada perubahan istilah di koran maupun di teve hanya dalam waktu beberapa hari, saya jadi geli sendiri. Jadilah orang yang percaya diri dengan istilah, seperti orang Semarang, “Itu bukan banjir, itu rob.” Hahaha…mantab!
Recent Comments