Archive for June, 2008

30
Jun
08

Serba-Serbi Kopi

Saya ini penggemar kopi nanggung.  Tiap pagi minum kopi, walaupun kopi ecek-ecek.  Aktivitas duduk-duduk di kafe sama teman-teman di luar jam makan saya sebut ”ngopi”. Saat seperti itu saya selalu pesan minumnya kopi.  Bisa single cup dengan pilihan kopi asal cap cip cup karena nggak ngerti, bisa capuccino atau cafe latte, atau bisa juga cafe latte yang ditambahin sirup hazelnut.  Sekarang punya perbendaharaan baru, creme brule.  Kalo cafenya tidak menyediakan creme brule, ya balik lagi ke hazelnut cafe latte.

Tokoh kopi dalam hidup saya, pertama almarhum Bapak saya yang suka minta dibikinin kopi sambil ngasi instruksi ke saya, kopi kesukaannya adalah yang begini begini begitu….baru dibilang sukses kalau ada pujian darinya, “kopi buatanmu enak” (ih kok kesannya domestik sekali ya…). Dalam awal hidup saya untuk urusan kegemaran kopi, saya nyontek beliau.  Kopi biasa yang dijual di warung dengan merk banyak disebut orang, trus dibuat dengan proses tubruk air mendidih.  Kopinya satu sendok teh munjung, gulanya 2 sendok teh munjung plus setengah sendok teh.  Bertahun-tahun saya menikmati kopi seperti ini.  Enak sih, tapi lama-lama mikir, kok gulanya banyak banget ya? Kesannya cemen, nggak benar-benar menikmati kopi. Lagian, bukannya nggak bagus ya mengkonsumsi banyak gula? Saya pun beralih ke kopi instan yang dijual per saset.  Cemen juga sih, tapi yang ini gulanya standard kayaknya.  Sedangkan kalo di kafe ya pesanannya seperti yang saya sebut di atas tadi. 

Tokoh kedua, teman saya Uci dari caswell.  Pengetahuan Uci tentang kopi lumayan hebat, buktinya dia sering diwawancara banyak media.  ID yahoo messenger-nya pun berbau-bau kopi.  Trus dia baru punya anjing jenis yorkshire terrier yang dikasi nama Machiato, hahaha. Tapi hubungan Uci dan saya temen banget, jadi terlalu dekat untuk ngobrolin soal kopi secara mendalam. Ngomongin kopi buat Uci kan pekerjaan, males lah dia. Kalo ketemu, kami lebih banyak ngobrol ngalor ngidul secara pertemanan saja.

Tokoh ketiga, seorang pria masih muda, namanya Ernest.  Dia anaknya Anne Avantie yang saya temui waktu saya mewawancarai ibunya.  Ernest yang masih berusia 17 tahun ini terlihat sangat antusias pada kopi.  Dia mau banyak belajar soal minuman yang satu ini.  Dia bahkan punya mesin kopi yang dibelikan orangtuanya.    Ernest suka banget bikin kopi. Kalau ada tamu di rumahnya pasti dia suguhin kopi. Waktu saya jadi tamu ibunya tempo hari juga disuguhkan kopi.  Tidak tanggung-tanggung dia bikinin saya rosetta yang susah itu.  Agak gagal sih, makanya Ayahnya ngeledek, “Kalo gagal jadi bukan rosetta lagi, tapi rosetan.” :)

Sabtu lalu saya ketemu lagi tokoh kopi yang baru dalam hidup saya, namanya Irvan Helmi. Irvan bersama rekannya, Agam mendirikan kafe spesialis kopi, namanya Anomali Coffee. Saya datang ke sana Sabtu lalu untuk urusan tugas, bikin review di Bintang Home, lebih ke urusan arsitektur dan interior.  Sebelumnya sudah pernah sih ke Anomali Coffee, dalam rangka kumpul sama teman-teman SMA.  Kesannya waktu itu cuma tempat yang oke, bisa pesan makanan yang bikin kami jadi kenyang, bisa jadi tempat ngobrol-ngobrol yang nyaman, bahkan sampai larut malam, serta asyik buat foto-foto.  Tapi urusan per-kopi-an waktu itu kok saya malah nggak ngeh ya.

Dari Irvan dan dari kunjungan saya yang kedua ke Anomali Coffee ini saya dapat banyak pengalaman. Pertama kekaguman saya pada Irvan dan Agam yang masih muda tapi sudah bisa mendirikan kafe itu.  Apalagi pas saya tahu bahwa mereka ternyata juga bekerja tetap di perusahaan dan instansi lain.  Jadi, menjalankan Anomali Coffee hanya di luar jam kerja.  Wah hebat.  Pengalaman kedua, pengetahuan saya tentang kopi jadi bertambah. Banyak sekali yang saya dapat selama liputan setengah harian itu, antara lain tentang jenis biji kopi, jenis minuman kopi, proses dari biji sampai jadi minuman, cara roasting, cara menggiling, cara netes air kopi dari mesinnya….halah…halah….banyak ya yang harus diketahui kalo mau jadi ahli kopi or sekadar penggemar kopi. Trus, ada lagi nih…cara mengaduk dan meminumnya…inget ya…menyeruput kopi, bukan meneguk, berarti juga…sesruput kopi bukan seteguk kopi…hahaha…

Mulai sekarang saya mau jadi penggemar kopi yang agak advance deh.  Saya ingin bisa membedakan rasa kopi jenis ini dan itu, di kafe yang ini dan kafe yang itu.  Untuk beberapa waktu pesennya harus espresso…hihihi…berani nggak ya? Saya ingin suatu saat bisa bilang….”kopi itu, tanpa gula pun sudah terasa manis” seperti yang suka diucapkan para penggemar kopi yang sesungguhnya. Tapi kalau dalam hati saya bilang nggak enak ya saya nggak mau maksa, balik lagi aja ke coffee mix dalam saset atau kopi tubruk dengan 2 setengah sendok teh munjung gula. Selesai deh urusan per-kopi-an.

16
Jun
08

Jagung Bakar Enak

maaf burem

 

Jumat lalu kami bikin acara kumpul-kumpul sambil menikmati aneka makanan, termasuk hidangan primadona malam itu, jagung bakar. Bukan sembarang jagung bakar, ini adalah jagung bakar terenak di dunia yang dulu dijajakan secara mangkal di seputar Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan.  Kenapa saya bilang seputar, karena pindah-pindah. Awalnya tepi jalan Panglima Polim IX, di tembok luar restoran Camoe-Camoe, trus pindah ke Jalan Radio Dalam (hehe ini mah nggak seputaran PangPol yak?), habis itu pindah lagi ke tepi Jalan Panglima Polim V.  Trus menghilang :(

Kerinduan akan rasa jagung bakar yang nendang banget ini membuat kami, para penggemar jagbak (begitu kami biasa menyebutnya) ini hunting mati-matian mencari si kreator jagbak.  Untungnya dulu waktu suka nongkong-nongkrong di kios jagbak itu kami suka ngobrol sama para penjualnya, berupa tim yang terdiri dari beberapa mas-mas antara lain Cak Mul, No, Bagong, Lukman dan terakhir Momo.  Waktu Cak Mul nggak kliatan lagi, kami tanya ke No, “Cak Mul mana?” Jawabannya tak begitu kami simpan dalam ingatan.  Maksudnya lupa…. Tapi ada satu yang menancap di otak, yaitu jawaban terhadap pertanyaan ke Momo. ”Mo, Lukman sekarang di mana?” Jawaban berupa tempat kerja Lukman yang baru itulah yang menancap di ingatan saya dan menjadi kunci utama kami bisa menikmati jagbak lagi. 

Suatu pagi yang cerah, sebelum ke kantor saya mampir dulu ke perkiraan tempat kerja Lukman.  Lalu kayak orang bener saya tanya ke satpamnya.  “Pak, di sini ada yang namanya Lukman nggak pak?” Jawabannya ada dan saya mengalami detik-detik menegangkan menanti Lukman muncul dari ruang dalam tempat kerja itu. Lukman yang itu bukan ya? Alhamdulilah, bener lho Lukman yang itu! Ngobrol-ngobrol sedikit dan tukeran nomer telpon pun kami lakukan. 

Berita menggembirakan (dapet nomor telpon Lukman) dan berita menyedihkan (mereka udah nggak jualan jagbak lagi) saya sebarkan ke komunitas penggemar jagbak. Diskusi pun berlangsung alot sampai akhirnya diputuskan mengusung Momo ke rumah Mita, tentunya bersama jagung dan bumbunya, dan mengolah menjadi jagbak yang mantap di tempat itu.  Dengan demikian kami pun bisa menikmatinya. Tuhan Maha Pemurah, Titien, salah satu member penggemar jagbak yang sangat bersemangat itu berhasil menemui Momo dan merayunya untuk menyediakan jagung dan bumbu-bumbu.

Friday the thirdteen June adalah hari bersejarah itu.  Dari siang saya sama Mita dan Nini udah chatting2, nggak sabar menunggu sore.  Jam 5, Mita off dan langsung ngibrit.  Jam 6 saya dan Nini sama2 off dan cabut ke TKP.  Marisa, Titien, Marcel dan Toey kami temui di rumah Mita, di sana sudah ada Momo dan Jo yang sudah sibuk ngipas.

Waaaahhh senangnya makan jagbak lagi. Momo memang jempolan, pilihan jagungnya mantab, bumbu tak sekadar ditaburi dan dicocolkan, tapi juga diulek, diracik, dimasak dll. Demikian pula jenisnya, tak sekadar mentega dan garam, tapi ada santan, gula jawa, terasi, cabe, dll yang rahasia dong.  Dia juga piawai mengoleskan bumbu ke jagung yang ternyata juga nggak sembarangan.  Lalu proses membakarnya dong…beda dari cara membakar jagung penjual yang lain deh pokoknya. Akhirnya rasa yang enak banget itu pun kami nikmati lagi. Asyik deh….di bawah taburan bintang di langit, ditambah makanan-makanan lain yang enak-enak semua. Sebotol wine dan bonus keindahan kembang api dari acara Bolaskop Extra Joss 2008 di Blok S yang kliatan dari roof top rumah Mita.  Kayak di Barcelona….*ngarang.com*.

 

11
Jun
08

Masa lalu selalu ada

Selasa siang mendapat kabar duka, meninggal dunia Prof. DR. dr. S.M.L. Tobing, Sp.S., Sp.J. Gelar yang panjang menandakan kepandaian dan kebijaksanaan almarhum.  Dia ayah dari 4 anak.  Dua di antaranya saya kenal baik, Moira dan Ciska.  Moira itu sahabat kakak saya sejak SMP, sedangkan Ciska sekelas sama saya sepanjang SMA.

Bersama kakak, saya melayat ke rumah duka, yang cukup banyak didatangi kerabat menyampaikan dukacita.  Di antaranya, teman-teman lama yang sudah lama sekali nggak ketemu.  Rasanya nyaman berada di kerumunan orang-orang lama.  Walaupun beberapa kurun waktu ini belum tentu setahun sekali bertatap muka, bahkan kirim-kiriman email, sms atau bicara di telpon pun jarang kami lakukan, namun kenyataannya kami pernah mengalami masa muda bersama, aneka kisah masih tertanam dalam ingatan.

Salah satunya yang jadi topik malam itu, ujian masuk universitas di Bandung yang  kami lakukan bersama.  Naik apa, nginep di mana, ngapain aja dan istilah-istilah yang kami lontarkan pada waktu itu semuanya masih jelas terbayang.  Perbedaan adanya uban dan gigi tanggal saat ini tak terpikirkan lagi, maksudnya lupa usia…hahaha…

Karena itu, kawan, jagalah sikap.  Karena yang baik, yang buruk, yang lucu, yang garing, terbawa terus sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.