Saya ini penggemar kopi nanggung. Tiap pagi minum kopi, walaupun kopi ecek-ecek. Aktivitas duduk-duduk di kafe sama teman-teman di luar jam makan saya sebut ”ngopi”. Saat seperti itu saya selalu pesan minumnya kopi. Bisa single cup dengan pilihan kopi asal cap cip cup karena nggak ngerti, bisa capuccino atau cafe latte, atau bisa juga cafe latte yang ditambahin sirup hazelnut. Sekarang punya perbendaharaan baru, creme brule. Kalo cafenya tidak menyediakan creme brule, ya balik lagi ke hazelnut cafe latte.
Tokoh kopi dalam hidup saya, pertama almarhum Bapak saya yang suka minta dibikinin kopi sambil ngasi instruksi ke saya, kopi kesukaannya adalah yang begini begini begitu….baru dibilang sukses kalau ada pujian darinya, “kopi buatanmu enak” (ih kok kesannya domestik sekali ya…). Dalam awal hidup saya untuk urusan kegemaran kopi, saya nyontek beliau. Kopi biasa yang dijual di warung dengan merk banyak disebut orang, trus dibuat dengan proses tubruk air mendidih. Kopinya satu sendok teh munjung, gulanya 2 sendok teh munjung plus setengah sendok teh. Bertahun-tahun saya menikmati kopi seperti ini. Enak sih, tapi lama-lama mikir, kok gulanya banyak banget ya? Kesannya cemen, nggak benar-benar menikmati kopi. Lagian, bukannya nggak bagus ya mengkonsumsi banyak gula? Saya pun beralih ke kopi instan yang dijual per saset. Cemen juga sih, tapi yang ini gulanya standard kayaknya. Sedangkan kalo di kafe ya pesanannya seperti yang saya sebut di atas tadi.
Tokoh kedua, teman saya Uci dari caswell. Pengetahuan Uci tentang kopi lumayan hebat, buktinya dia sering diwawancara banyak media. ID yahoo messenger-nya pun berbau-bau kopi. Trus dia baru punya anjing jenis yorkshire terrier yang dikasi nama Machiato, hahaha. Tapi hubungan Uci dan saya temen banget, jadi terlalu dekat untuk ngobrolin soal kopi secara mendalam. Ngomongin kopi buat Uci kan pekerjaan, males lah dia. Kalo ketemu, kami lebih banyak ngobrol ngalor ngidul secara pertemanan saja.
Tokoh ketiga, seorang pria masih muda, namanya Ernest. Dia anaknya Anne Avantie yang saya temui waktu saya mewawancarai ibunya. Ernest yang masih berusia 17 tahun ini terlihat sangat antusias pada kopi. Dia mau banyak belajar soal minuman yang satu ini. Dia bahkan punya mesin kopi yang dibelikan orangtuanya. Ernest suka banget bikin kopi. Kalau ada tamu di rumahnya pasti dia suguhin kopi. Waktu saya jadi tamu ibunya tempo hari juga disuguhkan kopi. Tidak tanggung-tanggung dia bikinin saya rosetta yang susah itu. Agak gagal sih, makanya Ayahnya ngeledek, “Kalo gagal jadi bukan rosetta lagi, tapi rosetan.”
Sabtu lalu saya ketemu lagi tokoh kopi yang baru dalam hidup saya, namanya Irvan Helmi. Irvan bersama rekannya, Agam mendirikan kafe spesialis kopi, namanya Anomali Coffee. Saya datang ke sana Sabtu lalu untuk urusan tugas, bikin review di Bintang Home, lebih ke urusan arsitektur dan interior. Sebelumnya sudah pernah sih ke Anomali Coffee, dalam rangka kumpul sama teman-teman SMA. Kesannya waktu itu cuma tempat yang oke, bisa pesan makanan yang bikin kami jadi kenyang, bisa jadi tempat ngobrol-ngobrol yang nyaman, bahkan sampai larut malam, serta asyik buat foto-foto. Tapi urusan per-kopi-an waktu itu kok saya malah nggak ngeh ya.
Dari Irvan dan dari kunjungan saya yang kedua ke Anomali Coffee ini saya dapat banyak pengalaman. Pertama kekaguman saya pada Irvan dan Agam yang masih muda tapi sudah bisa mendirikan kafe itu. Apalagi pas saya tahu bahwa mereka ternyata juga bekerja tetap di perusahaan dan instansi lain. Jadi, menjalankan Anomali Coffee hanya di luar jam kerja. Wah hebat. Pengalaman kedua, pengetahuan saya tentang kopi jadi bertambah. Banyak sekali yang saya dapat selama liputan setengah harian itu, antara lain tentang jenis biji kopi, jenis minuman kopi, proses dari biji sampai jadi minuman, cara roasting, cara menggiling, cara netes air kopi dari mesinnya….halah…halah….banyak ya yang harus diketahui kalo mau jadi ahli kopi or sekadar penggemar kopi. Trus, ada lagi nih…cara mengaduk dan meminumnya…inget ya…menyeruput kopi, bukan meneguk, berarti juga…sesruput kopi bukan seteguk kopi…hahaha…
Mulai sekarang saya mau jadi penggemar kopi yang agak advance deh. Saya ingin bisa membedakan rasa kopi jenis ini dan itu, di kafe yang ini dan kafe yang itu. Untuk beberapa waktu pesennya harus espresso…hihihi…berani nggak ya? Saya ingin suatu saat bisa bilang….”kopi itu, tanpa gula pun sudah terasa manis” seperti yang suka diucapkan para penggemar kopi yang sesungguhnya. Tapi kalau dalam hati saya bilang nggak enak ya saya nggak mau maksa, balik lagi aja ke coffee mix dalam saset atau kopi tubruk dengan 2 setengah sendok teh munjung gula. Selesai deh urusan per-kopi-an.


Recent Comments