Archive for December, 2007

18
Dec
07

Chinese Food

Kalau ada cerita tentang chinese food di film-film Amerika, penampilannya pasti dalam kotak karton yang mulutnya lebih lebar daripada dasarnya. Eh kok mulut ya, di atas banget gitu kalau pada manusia ubun-ubun kan ya? Kalau ubun-ubun kotak itu dibuka, bukaannya berbentuk seperti kembang. Dalam film, sang aktris atau aktor melahap isi kotak itu dengan sumpit, lalu masuk mulut. Sampai sejauh ini saya nggak pernah liat isi kotak itu, jenis chinese food yang bagaimana? Chinese food kan bukan cuma bakmi, bisa saja capcay, ayam goreng mentega, dll. Kalau berkuah gitu gimana ya? apa wadahnya tetap kotak karton? Kok nggak bocor?

Chinese food model baru di Jakarta, miitem, pakai kotak karton yang bentuknya seperti yang di film-film Amerika. Bakmi GM di Jakarta, beberapa tahun belakangan ini memakai kemasan kotak karton juga, cuma bentuknya kotak persegi panjang, lebih lebar tapi lebih rendah daripada kemasan miitem dan chinese food yang suka ada di film-film Amerika itu. Kuah atau saus yang cair disiasati Bakmi GM dan miitem dengan menempatkannya dalam kantong plastik. Begitu jugakah dengan chinese food yang di Amerika? Tapi, katanya Amerika kan sudah mengurangi pemakaian plastik, berarti mungkin saja nggak ada plastik sama sekali. Berarti juga, jenis chinese food yang dikotakin di Amerika itu yang tidak berkuah.

Konon, pemakaian karton lebih aman bagi kesehatan dibandingkan dengan styrofoam. Bahan yang terakhir ini kan katanya mengandung suatu bahan kimia yang kalau lapisannya tertelan akan membahayakan pengkonsumsinya (halah.. bahasanya…). Saya beberapa kali pesan Bakmi GM delivery untuk acara makan bersama di kantor atau di rumah. Kebanyakan peserta makan bersama memindahkan makan dari kotak karton itu ke mangkok atau piring. Soalnya mau pakai kuah, takut kartonnya jebol. Saya sebagai orang yang pemalas, nekad makan dari karton, tanpa menuangkannya ke piring atau mangkok. Pakai kuah juga kok. Sampai makanan habis, karton baik-baik saja, nggak bocor, nggak jebol. Walaupun saya termasuk pemakan cepat, tapi saya mikir juga, kok nggak bocor/ jebol ya? Kalau dalam waktu lama dikuahin mungkin aja jebol. Tapi kalau enggak juga, berarti karton itu mengandung zat semacam coating waterproofing yang jangan-jangan membahayakan kesehatan juga.

Nah, kalau segala wadah berisiko, dan kita jadi takut, jalan keluarnya, jangan membeli makanan yang dibungkus, makan di tempat saja atau bawa wadah sendiri yang menurut kita aman. Trus, jangan delivery juga. Jadinya ya nggak praktis. Atau, demi kepraktisan, nggak usah takut ini dan itu, bismilah aja mudah-mudahan nggak kenapa-napa.

14
Dec
07

Bersiap-siaplah

Dua hari lalu, Pelawak Basuki meninggal dunia selagi/ setelah main futsal.

Sehari sebelumnya, Wartawan Investor Daily, Michael Ferdin meninggal dunia selagi computing something di meja kerjanya.

Meninggal mendadak bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja.  Maka bersiap-siaplah….

05
Dec
07

Rob

Suatu hari teman saya bertanya-tanya, “Apa sih artinya ‘pembalakan’? ‘Penebangan hutan secara liar’ kan? Kenapa sih nggak tetap pakai istilah ‘penebangan hutan secara liar’ aja kayak dulu? bikin bingung aja.”

Hahaha memang jadi membingungkan. Banyak istilah baru Bahasa Indonesia yang menggantikan istilah lama. Positifnya, pembaca koran ditantang mempelajari istilah-istilah itu. Negatifnya, wartawan dulu kosa katanya terbatas, kalau dari dulu udah ada istilah ‘pembalakan’ kan jadi nggak perlu panjang-panjang pakai kata-kata ‘penebangan hutan secara liar’.

Pengamatan saya di koran baru-baru ini cukup menggelikan. Berita tanggal 26 November, jalan ke bandara Soekarno-Hatta terendam air, disebutnya ‘banjir air laut pasang’. Beberapa hari kemudian banjir jenis yang sama terjadi di Semarang, disebutnya ‘rob’. Karena sudah ada istilah yang lebih singkat (rob), hari-hari berikutnya, wartawan pun ikut-ikut menulis dengan istilah ‘rob’ untuk berita terjadinya ‘rob’ di Jakarta maupun di kota-kota lain.

Orang Semarang memang selalu memakai istilah ‘rob’ untuk banjir air laut pasang. Pada tahun 2000 saya bertugas di Semarang, waktu mau naik kereta untuk pulang ke Jakarta, perjalanan saya menuju stasiun KA terhadang banjir. Saya nggak tau istilahnya apa, pokoknya malam itu ke stasiun dengan penuh perjuangan. Pertama naik taksi, lalu saya mengoperkan diri naik becak. Pertama duduk manis di bangku becak, lama-lama harus duduk di sandaran becak karena air naik sampai ke bangkunya. Lalu perjuangan menunggu kereta yang terlambat 5 jam. Tahun 2005 saya ke Semarang lagi, saya ceritakan pengalaman saya di tahun 2000 itu ke orang Semarang. Katanya “oh, itu bukan banjir, itu rob.”

Begitu ada perubahan istilah di koran maupun di teve hanya dalam waktu beberapa hari, saya jadi geli sendiri. Jadilah orang yang percaya diri dengan istilah, seperti orang Semarang, “Itu bukan banjir, itu rob.” Hahaha…mantab!