Archive for November, 2007

29
Nov
07

Ngegosip di Ullen Sentalu

Ullen Sentalu, nama museum di Kawasan Wisata Kaliurang, Yogyakarta. Keterangan di bawahnya, Javanese Culture and Art Museum atau Museum Budaya dan Kesenian Jawa. Awal November lalu saya datang ke sana. Tempatnya asyik, nuansanya asri.

Museum ini milik swasta, museum yang tidak terlalu dikenal, bahkan oleh supir mobil sewaan yang kami pakai sekalipun. Padahal supir itu sudah cukup umur dan sebagian besar hidupnya di Yogya. Saya datang ke sana bersama sepupu saya dan seorang teman. Sepupu ini yang memberi info adanya Ullen Sentalu, padahal dia berdomisili di Belanda. Hmmm, kadang-kadang orang jauh lebih tahu budaya tertentu dari pada yang ada di dekat pusat kebudayaan itu ya?

Ruang-ruang dalam museum memajang benda-benda seperti deretan lukisan, foto, patung dan benda-benda lainnya, antara lain kain batik. Beberapa merupakan koleksi kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kraton Pakualaman, Kraton Mangkunegaran, dan tentu saja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di balik benda-benda itu terdapat kisah yang dituturkan oleh guide yang menyertai setiap rombongan tamu. Ditambah info-info tentang tata krama dan adat istiadat budaya jawa ala kraton tersebut. Kalau datang nyelonong, tanpa guide…pasti bakal plonga plongo nggak ngerti apa-apa.

Penuturan dari guide cukup menarik, terlihat sekali mbak-mbak itu (aduh lupa nama giude-nya, maaf ya), menguasai kisah semua benda dalam museum. Apalagi, yang dituturkan mengandung unsur gosip tokoh-tokoh Kraton di Yogyakarta, Surakarta dan sekitarnya. Jadi seperti infotainment khusus orang-orang jawa berdarah biru, hehehe. Menarik buat orang-orang jawa berdarah tidak biru. He? seperti saya maksudnya? Iya, darah saya warnanya merah, nggak biru.

28
Nov
07

Penting nggak sih?

Manusia hidup itu butuh macam-macam. Sandang, pangan, papan, itu katanya kebutuhan pokok. Tapi kebutuhan lain juga perlu, bukan?

Beberapa hari lalu saya beli kamera. Kebutuhannya, untuk mengabadikan berbagai moment. Penting nggak sih? ya penting nggak penting. Moment-moment yang kemaren-kemaren kan kelewat begitu aja, tanpa pengabadian. Hehe tetap nggak begitu penting sebenarnya ya. Saya aja yang ganjen kali.

Sehari setelah beli kamera saya jalan-jalan lagi ke mall. Liat kios kacamata, teringat, oh iya saya udah perlu kacamata progresif. Cuma tanya-tanya aja, belom beli. Penting nggak sih? Ya penting nggak penting, kalo buram liat jarak dekat, masih bisa lepas kacamata minus ini. Coret ah, nggak usah beli dulu.

Trus ada outlet yang promo internet wireless. Pengen beli juga, tanya-tanya harga dan banding-bandingin produk ini dan itu. Penting nggak sih? ya penting nggak penting, kalo mau internetan masih bisa di kantor, atau di rumah, kayak orang yang diledekin kodok, “orang dalam tempurung” (hihihi iklan banget…). Nggak papa lah diledekin sama kodok. Coret juga.

Untungnya saya bukan orang yang gampang beli barang. Kalau ingin sesuatu, terutama barang yang nggak terlalu penting, ditahan-tahan dulu sampai benar-benar yang penting-penting terpenuhi, baru deh beli. Agak beda tipis sama pelit sih, tapi nggak papa deh daripada kebablasan.

27
Nov
07

Pinteran Anaknya

Zaman sekarang, banyak ortu menyekolahkan anaknya di sekolah mahal. Pengantarnya bahasa Inggris dan seabrek fasilitas lain yang membuatnya jadi berkualitas baik.

Teman saya tahu istilah upper case dan lower case berarti huruf besar dan huruf kecil, dari anaknya. Jadi pengetahuan teman saya itu bahwa bahasa inggrisnya huruf besar itu capital letter, tidak umum lagi dipakai di pelajaran sekolah.

Teman lain lagi baru mengerti istilah undersuit untuk baju dalam atau singlet, juga dari anaknya. Dia taunya selama ini singlet disebut underwear juga, sama seperti istilah untuk celana dalam.

Akui saja bahwa anak bisa lebih pintar daripada kita. Sama kan seperti waktu kita muda, baru masuk SMP aja udah merasa lebih pintar daripada ibu kita. Apalagi pas udah kuliah, makin merasa lebih pintar lagi kan? Orangtua yang baik ingin anaknya lebih pintar dari dirinya, bukan. Hanya saja kayaknya orangtua zaman dulu lebih tulus daripada orangtua zaman sekarang. Benar nggak sih?

23
Nov
07

Jas Hujan Daur Ulang

Liputan yang asyik menurut saya adalah liputan yang membawa kesan mendalam. Seperti ketika liputan sebuah deli (toko bahan makanan) bernama Eat for Health di Kebayoran Baru. Tempat ini sungguh sangat berbeda dari tempat-tempat yang lain.
Fokusnya ke makanan dan lingkungan hidup yang sehat. Di sini semangat kita digugah untuk mengkonsumsi makanan sehat dan mengelola lingkungan kita agar menjadi sehat. Mereka mengolah sampah menjadi kompos untuk media tanam dan pupuk tanaman. Yang ditanam, sayur-sayuran organik dan tanaman untuk bumbu. Hasilnya kemudian dipanen dan diolah menjadi makanan sehat yang dihidangkan di sini. Selain yang dihidangkan, juga ada bahan mentah yang dijual.
ponco
Tempat ini juga menerima sampah plastik bekas kemasan untuk dikreasikan menjadi barang-barang yang bisa dipakai, seperti tas dan benda yang berfungsi sebagai wadah lainnya. Bahkan dari sampah bisa dijadikan jas hujan seperti yang saya pakai di foto ini. Lihat saja, sampah yang dipakai berupa bekas kemasan deterjen, kopi, snack dan lain-lain. Kalau mau lihat hasil liputannya, silakan baca di Bintang Home edisi 111 yang akan terbit tanggal 28 November 2007.
Pemiliknya, teman saya itu bernama Gina. Satu almamater sama saya, tapi dia adik kelas, jauh di bawah saya. Salut buat Gina, semoga sukses dengan Eat fot Health-nya.

16
Nov
07

Cowok-cowok Keren

Jarang-jarang kan gue memuji cowok. Tapi kali ini gue bener-bener muji. Mereka adalah Once, kelompok Gigi sama Andra & The Backbone. Yang keren, suaranya….lagu Untitled, 11 Januari sama Sempurna bolak-balik gue puter. Keren banget….

Tapi tadi malem gue dengerin radio SK. Operatornya iseng banget deh. Mula-mula muter lagu yang intronya pake gitar….gue pikir Sempurna-nya Andra & The Backbone….ternyata…hihihi Dust In The Wind-nya Kansas. Itu lagu tahun 70an yang jadi lagu wajib gue kalo lagi camping. Nah trus abis Dust In The Wind selesai, disusul Sempurna- Andra & The Backbone…. yak olo…mirip banget! Intronya doang sih…gue tetep demen kok lagu itu.

15
Nov
07

Kripik Jamur

Beberapa waktu lalu saya ke Yogya.  Saya merasakan lagi kripik jamur. Makanan ini saya kenal beberapa tahun lalu di Yogya. Waktu itu dipromosikan, jamur yang rasanya seperti paru. Pas dimakan, memang benar, rasanya kayak kripik paru. Kripik paru dan kripik jamur sama-sama dibungkus tepung, hanya saja bentuknya berbeda. Kalau kripik paru melebar, kripik jamur kecil-kecil.

Sebenarnya makanan ini berasal dari Wonosobo, konon daerah Dieng yang banyak menghasilkan jamur, jenis jamur payung kecil. Makanya kalau dapat potongan kripik yang utuh, bentuknya kelihatan seperti potongan jamur payung.

Setelah pertama kali merasakan kripik jamur itu, saya kemudian lupa sama makanan ini, sampai bertahun-tahun. Sampai beberapa hari lalu pas mampir toko oleh-oleh di Magelang, saya inget lagi makanan ini. Rasanya masih sama, masih seperti paru.  Sekarang malah ada tulisan di kemasannya ”Kripik Jamur Rasa Paru”.

Silakan rasain deh, tapi belinya harus di Yogya atau kota-kota lain di Jawa Tengah. Setau saya di Jakarta nggak ada.

06
Nov
07

AD

dsc_0224.jpg

AD, initial untuk Ahmad Dhani. Cowok berjenggot yang belakangan sering banget masuk tv.  Diublek-ublek soal gonjang ganjing rumah tangganya. Pria ini sering diteriaki cewek-cewek, arogan! Saya termasuk yang teriak paling kencang.

Beberapa waktu lalu saya ketemu orangnya. Dan ternyata oh ternyata, memang arogan, hehe. Tapi nggak papa sih, setiap keadaan kan ada hikmahnya. Buat gue hikmahnya, jadilah orang yang bebas berekspresi, batasnya, nurani kita sendiri.

Arogan atau tidak, bukan urusan saya. Kalau urusan Dhani dan saya, liputan yang bagus untuk Bintang Home.
Dia rela memakai jas untuk pemotretan, kami juga rela nunggu jas itu datang dari tailor.
Dia rela kehilangan pohon jambu di depan rumahnya, demi mendapatkan foto tampak depan rumah yang bagus. Kami pun rela menunggu sampai pohon jambu itu tuntas ditebang.
Satu lagi dia rela mobil box nya diinjak-injak demi dapat angle foto yang bagus, kami pun rela naik box mobilnya untuk memotret.
Baik kan?